Jumat, 20 April 2012

INTUISI HATI SEBAGAI SUMBER ILMU PENGETAHUAN


PENDAHULUAN
            Intuisi hati adalah fungsi dasar hati untuk selalu berkata jujur dan membimbing seluruh anggota tubuh untuk bertindak dalam kebenaran. Sebagian besar manusia  sering mengingkari kata hati atau intuisi hati tersebut karena berbagai alasan keduniawian yang pada akhirnya justru menjerumuskan manusia tersebut ke dalam kemungkaran dan dosa.  Sesuai fitrahnya tersebut, seluruh manusia memiliki hati dengan fungsi yang sama, hanya saja diperlukan iman dan ketaqwaan untuk mematuhinya.
            Kaitanya dengan judul makalah ini, makalah ini mengemukakan dua buah hadits diikuti keterangan, biograafi perawi dan aspek tarbawinya.
         




PEMBAHASAN
A.    INTUISI HATI SEBAGAI SUMBER ILMU PENGETAHUAN
B.    Hadits II
عَنْ أَنَسِ بنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله ُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (مَنْ عَمِلَ بِمَا يَعْلَمْ وَرثَهُ الله عِلْمَ مَالَمْ يَعْلَمْ ) (رواه أبو نعيم الأصفهاني فى حلية الأولياء)
TERJEMAHAN HADITS II
Dari Anas bin Malik, bahwa Nabi SAW bersabda “Barang siapa yang mengamalkan sesuatu yang diketahui, maka Allah akan mewariskan suatu ilmu yang ia tidak ketahui”
D.     Mufrodat I
الْحَلاَلُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ        Yang halal jelas dan yang haram jelas
وَبَيْنَهُمَا مُشَبَّهَاتٌ               Dan diantara keduanya adalah hal yang meragukan
لاَيَعْلَمُهَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ     Tidak banyak orang yang mengetahui
فَمَنِ اتَّقَى الْمُشَبَّهَاتِ       Barangsiapa yang menghindarkan diri dari hal-hal    syubhat
وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ        Dan barangsiapa yang terjatuh dalam syubhat
مُضْغَةً                                Segumpal darah
الْقَلْبِ                                Hati
Mufrodat II
مَنْ                                    Barang siapa
عَمِلَ                                  Mengamalkan
يَعْلَمْ                                    Yang diketahui
رثَهُ                                         Mewariskan

E.     Biografi Perawi I
Nama lengkapnya adalah An-Nu’man bin Basyir bin Ka’ab Al-Khazraji Al Anshari, tapi juga dikenal dengan Abu Abdillah. Ia dilahirkan 14 bulan setelah hijrah. Dia adalah orang Anshar pertama yang lahir setelah nabi hijrah ke Madinah. Bapaknya adalah seorang sahabat dan ibunya juga seorang sahabiyah Radiyallahu Anhuma. Nabi meninggal ketika ia berumur 8 tahun yang saat itu masih tinggal di Syam. Muawiyah mengangkatnya sebagai pemimpin Himsh. Dan ditetapkan kepemimpinannya oleh Yazid bin Muawiyah. An-Nu’man bin Basyir adalah orang yang pemurah dan ahli syair. Dia dibunuh di sebelah kampung di Himsh karena dia menyerukan untuk membaiat Abdullah bin Az-Zubair, pada tahun 56 H. Al Bukhari meriwayatkan hadits darinya sebanyak 6 hadits dan haditsnya yang termaktub dalam kitab-kitab hadits sebanyak 114 Hadits.[3]

F.  BIOGRAFI PERAWI II
Ibnu Abbas mempunyai nama lengkap Abdullah bin Abbas bin Abdil Muthalib Al-Hasyimi, Abu Al Abbas yang merupakan anak paman Rasulullah SAW dilahirkan di Makkah 3 tahun sebelum hijrah, yaitu di lembah saat Rasulullah beserta kaum muslimin dikepung oleh musyrikin Quraisy. Nabi berdoa kepadanya, “Ya Allah pahamkanlah dia dalam agama dan ajarkanlah takwil”. Umar bin Khatab mendudukannya dalam majlisnyaزdan mengambil manfaat dari ilmunya yang melimpah serta. akalnya yang cerdas. Dia meninggal di Thalif tahun 71 H dan dikuburkan disana.[4]
G.      KETERANGAN HADITS I
Hadits di atas menjelaskan bahwa hal-hal yang halal dan haram sudah jelas hukumnya, tapi diantara keduanya ada hal-hal yang masih diragukan hukumnya, hal tersebut dikarenakan adanya hal yang belum ditetapkan hukumnya atau belum diketahui banyak orang. Dan disarankan kepada kaum muslim untuk berhati-hati atau lebih baik menjauhi hal-hal yang diragukan tersebut karena dikhawatirkan hal yang diragukan tersebut adalah hal yang haram atau dilarang.

KETERANGAN HADITS II
Hadits tersebut menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan pada diri manusia tidak akan berkurang atau hilang dengan mengajarkannya pada orang lain, tapi justru akan bertambah.

G.    ASPEK TAFBAWI I
Kaitan hadits tersebut di atas dengan tema intuisi hati adalah sebagai berikut:
1.      Bahwasanya yang dapat memilah dan memilih apakah suatu hal meragukan atau tidak adalah hati, maka sangatlah penting bagi setiap muslim untuk mendengarkan kata hatinya (intuisi hati), bila hatinya meragukan hukum dari suatu hal maka lebih baik dia menghindari atau tidak melakukannya. Keragu-raguan tersebut dapat ditimbulkan oleh adanya dua hal :
a.       ketidaktahuan seseorang akan hukum suatu hal
b.      belum ditentukannya hukum akan hal tersebut
2.      Dalam hadits tersebut di atas dikemukakan bahwa bila hati seseorang baik maka akan baik pula seluruh tubuhnya, maksud dari potongan hadits tersebut adalah pada fitrahnya hati semua manusia itu baik dan hanya mengajak ke hal-hal yang baik, namun demikian, pada sebagian besar manusia hatinya tidak terlatih utuk menyuarakan kebenaran lebih keras dan kemudian menegakkan niat yang terimplementasi ke dalam perbuatan. Hasilnya apa yang dilakukan oleh orang-orang tersebut adalah pengingkaran terhadap hati dan cenderung merupakan perbuatan-perbuatan yanng diharamkan atau yang diragukan kehalalannya. Jika hal ini terus menerus dilakukan dan menjadi sebuah kebiasaan serta tidak adanya usuha-usaha perbaikan maka jadilah apa yang disebut dalam hadits sebagai hati yang rusak atau yang tidak baik dan membawa kerusakan atau keburukan ke dalam semua perbuatan manusia itu sendiri.

ASPEK TARBAWI II
1.    Setiap muslim yang telah memiliki ilmu akan suatu hal (yang tidak bertentangan dengan agama) wajib mengamalkannya dalam bentuk perbuatan dan mengajarkanya pada orang lain
2.    Tidak diperkenankan bagi muslim untuk menyembunyikan ilmunya, tapi juga tidak diperkenankan untuk pamer dengan tujuan  membanggakan diri dan merendahkan orang lain.


PENUTUP
Dari pemaparan di atas dapat diketahui pentingnya hati dalam kehidupan manusia dan pentingnya mendengarkan intuisi hati serta mengikutinya termasuk intuisi hati untuk berbagi ilmu pengetahuan dengan sesama, karena dengan cara berbagi tersebutlah ilmu pada diri manusia tidak berkurang atau habis tapi justru bertambah. Untuk mencapai pertambahan ilmu tersebut hal lain yang juga penting untuk dilakukan adalah mengamalkan ,melakukan atau mewujudkan ilmu tersebut dalam wujud perbuatan yang membawa kemaslahatan bagi diri sendiri dan umat.









DAFTAR PUSTAKA
Shahih Bukhari Jilid I
Al Asqani, Ibnu Hajar, 2008, Fathul Baari syarah Shahih al Bukhari, Jakarta : Pustaka Azzam
Dieb Al-Bugha, Dr.Musthofa dan Mistu, Syaik Muhyiddin, 2008, Al Wafi syarah Hadits Arbai’in Iman Nawai, Jakarta : Pustaka Al-Kautsar

[1]Shahih Bukhari Jilid I, hal 28
[2] Ibnu Hajar al Asqani, Fathul Baari syarah Shahih al Bukhari,(Jakarta : Pustaka Azzam, 2008), hal 232
[3]Dr.Musthofa Dieb Al-Bugha dan Syaik Muhyiddin Mistu, Al Wafi syarah Hadits Arbai’in Iman Nawai,(Jakarta : Pustaka Al-Kautsar, 2008), hal 474
[4] Dr.Musthofa Dieb Al-Bugha dan Syaik Muhyiddin Mistu, Al Wafi syarah Hadits Arbai’in Iman Nawai,(Jakarta : Pustaka Al-Kautsar, 2008), hal 470

Tidak ada komentar:

Posting Komentar